harga emas anjlok di kalimantan

  • May 14, 2026
  • Hanisa karunia Tarigan
  • Ekonomi, Bisnis

Harga emas mengalami penurunan yang cukup signifikan. Secara umum, harga emas anjlok di tengah memanasnya konflik perang antara Amerika Serikat dan Iran. Secara spesifik untuk emas Antam, pada tanggal 13 Mei 2026 harga turun sebesar Rp20.000 menjadi Rp2.839.000 per gram. Sebelumnya, pada bulan April 2026, telah terjadi penurunan yang lebih tajam, yakni harga emas Antam di Kalimantan sempat turun hingga Rp30.000 per gram pada tanggal 29 April 2026
Fenomena ini melibatkan para investor, para ahli ekonomi seperti dosen dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta, serta masyarakat luas termasuk warga di Kalimantan. Dampaknya juga dirasakan oleh calon investor yang memanfaatkan layanan seperti Tabungan Emas di Pegadaian. Para perencana keuangan seperti Andy Nugroho dan Mike Rini Sutikno turut memberikan pandangan agar investor tidak panik dan tetap melihat emas sebagai investasi jangka panjang.
Peristiwa penurunan harga emas ini terjadi dalam dua periode. Pertama, secara umum terjadi saat konflik perang AS-Iran memanas, dengan kondisi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama. Kedua, secara spesifik untuk emas Antam, terjadi pada tanggal 29 April 2026 dengan penurunan tajam hingga Rp30.000 per gram, dan kembali turun pada tanggal 13 Mei 2026 sebesar Rp20.000 per gram.
Dampak penurunan harga emas ini bersifat global karena emas dihargai dalam dolar AS, namun dampak spesifik terlihat di Indonesia. Salah satu lokasi yang disebutkan adalah Kalimantan, di mana harga emas Antam sempat turun tajam pada 29 April 2026. Secara lebih luas, dampak ini dirasakan oleh warga Indonesia yang berinvestasi melalui berbagai platform seperti Pegadaian, yang bisa diakses melalui aplikasi Tring! atau kantor cabang di seluruh Indonesia.
Ada beberapa penyebab mengapa harga emas turun meskipun sedang terjadi konflik perang. Penyebab utamanya adalah kebijakan suku bunga tinggi yang membuat obligasi lebih menarik karena emas tidak memberikan bunga, serta menguatnya dolar Amerika yang membuat harga emas lebih mahal bagi investor global. Selain itu, terjadi forced liquidation di pasar futures, cash conversion sementara di mana investor memilih memegang uang tunai, dan profit taking oleh investor besar. Para ahli juga menambahkan bahwa pasar melihat konflik tidak akan meluas dan terjadi fenomena "buy the rumor, sell the news". Penurunan ini juga sering kali dipicu oleh kebijakan suku bunga tinggi dan inflasi yang menetap.
Dampak dari penurunan harga ini justru meningkatkan antusiasme warga untuk melakukan investasi atau pembelian kembali (buyback). Bagi investor, strategi yang tepat adalah tidak panik karena penurunan harga sering bersifat sementara. Emas tetap layak sebagai investasi jangka panjang untuk melindungi nilai uang dari inflasi. Strategi yang dianjurkan adalah melakukan investasi bertahap dengan membeli secara rutin dalam jumlah kecil, tidak terpaku pada pergerakan harga harian, dan melakukan diversifikasi portofolio. Momen harga turun justru bisa menjadi peluang, misalnya melalui Tabungan Emas dari Pegadaian yang memungkinkan menabung mulai dari 0,01 gram emas 24 karat, dengan penyimpanan aman serta bisa dijual atau digadaikan kapan saja.