Borneo Art Play asal Palangkaraya Membawa Pulang Pengalaman Mongolia ke Tanah Borneo: "Oleh-Oleh Dari Mongolia"
- May 10, 2026
- M. Rahman All Pani
- Budaya, Hiburan, Kesenian, Teater, Pertunjukan

PALANGKA RAYA Sabtu, (9/5/2026) – Perjalanan jauh ke luar negeri sering kali hanya menyisakan tumpukan foto di galeri ponsel. Namun, bagi Abdul Khafizd dari komunitas Borneo Art Play, perjalanan ke Mongolia adalah sebuah keresahan kreatif yang harus diledakkan di atas panggung. Melalui pertunjukan bertajuk "Oleh-Oleh Dari Mongolia", Abdul membagikan pengalaman batinnya kepada publik melalui pementasan teater monolog dan teater objek yang intim. Diselenggarakan Sabtu malam,di Caffe Toko Kopi Santai Jl. Sudirman, Palangka Raya.
Bukan Sekadar Buah Tangan
Judul "Oleh-Oleh" dipilih bukan tanpa alasan. Pertunjukan ini merupakan kemasan cerita dan pengalaman selama ia berada di negeri Jengkhis Khan tersebut. Menariknya, penonton tidak hanya disuguhi visual, tetapi juga diajak mencicipi langsung snack khas Mongolia yang dibawa langsung sebagai simbol berbagi rasa.
"Ini adalah cerita yang kita bungkus dari pengalaman selama di Mongolia. Kenapa 'Oleh-Oleh'? Karena saya memang ingin membagikan pengalaman itu secara nyata, termasuk membagikan camilan khas sana kepada penonton," ujar Abdul saat ditemui usai pertunjukan.
Fragmen Kerinduan di Jalanan Mongolia
Dalam pementasannya, Abdul menyoroti sosok bernama Age, seorang teman yang membantu mandu perjalanan saat di Mongolia yang merubah cara pandangnya tentang kemanusiaan. Age menjadi inspirasi tentang bagaimana kebaikan bisa diberikan kepada siapa saja tanpa memandang latar belakang.
Ada satu memori yang membekas kuat dalam ingatan Abdul: sebuah rekaman video yang menangkap momen melankolis di tengah malam Mongolia. "Saya melihat scene seorang pria berjalan kaki di jalanan aspal yang kosong, hanya diterangi lampu jalan sambil membawa minuman vitamin. Dia terlihat merasakan kesedihan yang sangat dalam. Momen-momen jujur seperti itulah yang ingin saya bawa ke panggung," kenangnya.
Teater Objek: Jujur dan Tanpa Sekat
Meski memiliki banyak rekaman video yang bisa dijadikan dokumenter, Abdul lebih memilih jalur teater semi-monolog. Baginya, bentuk ini adalah representasi paling jujur dari dirinya. Penggunaan teknologi webcam dan teater objek, di mana benda-benda di sekitar ikut "berbicara" menjadi ciri khas yang terus ia asah.
Persiapannya pun tergolong singkat, yakni hanya satu minggu setelah kepulangannya ke tanah air. "Konsepnya matang saat perjalanan pulang, lalu dieksekusi dalam seminggu. Bahkan saya melibatkan anak saya, Rahvayana, sebagai bentuk janji untuk berkarya bersama," tambahnya. ks
Pementasan itu berhasil Sold dengan Full pengunjung. Penonton mampu merasakan dingin dan hangatnya pertunjukan. Rasa rindu seorang ayah akan keluarga, rasa iri ingin membawa sistem budaya teater yang sehat ke tanah air, sampai rasa kangen rasa pecel lele yang tidak tergantikan. Tidak luput membawa nuansa dinginnya negara Mongolia dengan menghadirkan ornamen salju dari kepingan kertas dan gelembung air, berhasil mengimpertasikan salju yang selama ini hanya dilihat dari TV dan Film's. Dibantu dengan Soundtrack Film Home Alone mengirimkan para penonton teringat masa kecil malihat salju dari layar kaca.
Spirit "Asal Gerak" untuk Ekosistem Seni
Melalui Borneo Art Play, Abdul ingin mematahkan stigma bahwa pertunjukan teater harus selalu megah dan terjebak dalam kerumitan konsep. Ia ingin menunjukkan bahwa kesenian yang dekat dengan keseharian dan kejujuran perasaan pun bisa diapresiasi dengan sangat baik.
Sebagai penutup, ia memberikan pesan kuat bagi para pelaku seni muda di daerah agar tidak takut untuk memulai. Strateginya sederhana namun menantang.
"Banyak-banyak bikin, biar banyak-banyak tahu rasanya," pungkas Abdul tegas.